“Go Green” Desain Properti 2009 ?

Desain rumah saat ini mengalami perkembangan yang cepat. Hal ini wajar karena merupakan keharusan sesuai dengan perkembangan zaman.
Para pengembang menilai mengikuti kecenderungan akan menguntungkan. Sebab, konsumen akan memilih desain terbaru. Pada 2009 ini, desain minimalis tampaknya masih akan tetap mendominasi desain bangunan yang dikembangkan pengembang dan swadaya. Hanya, kecenderungannya desain minimalis akan digabungkan dengan desain lainnya. Misalkan saja desain yang bisa mengakomodasi pemanasan global.

Menghadapi keadaan ini, sejumlah arsitek melihat kecenderungan desain rumah hemat energi akan mulai banyak dibangun pengembang dan swadaya. Desain hemat energi tetap menjadi ruhnya, sementara modern minimalis sebagai aksen.

Menurut arsitek PT Urbane Indonesia Ridwan Kamil, kecenderungan desain rumah pada 2009 akan didominasi kesadaran pentingnya menjaga lingkungan. Kesadaran ramah lingkungan tersebut akan menjadi inspirasi bagi arsitek mendesain rumah maupun bangunan lainnya. “Orang akan lebih selektif membeli rumah,” tuturnya.

Mungkin bukan hanya itu. Dia menilai, masyarakat akan terlebih dahulu melihat apakah rumah yang dibangun pengembang memiliki eco label atau sebuah sertifikat yang menerangkan produk rumah tersebut “tidak” mempergunakan bahan yang merusak alam. Di sini rumah bukan hanya tempat tinggal yang sehat, juga harus hemat energi dan biaya.

Tidak heran jika pada 2009 ini akan semakin banyak desain rumah yang atapnya datar dan mempergunakan lanskap atau yang biasa disebut green roof. Selain itu dinding yang dijalari tanaman rambat (green wall). Dengan begitu, masyarakat bisa meletakkan tanaman di atap rumah maupun dinding rumah. Hal itu bukan saja membuat rumah sedikit lebih indah, juga dapat mengurangi suhu panas di dalam rumah.

Sebuah penelitian menyebutkan, bila tanaman di bagian atap mempunyai tinggi sekitar 10 cm, maka dapat mengurangi pemakaian AC sekitar 25 persen. Sebuah ruangan yang terletak tepat di bawah green roof mempunyai suhu udara lebih rendah, yaitu sekitar 3 derajat hingga 4 derajat Celsius dibandingkan dengan suhu udara di luar ruangan.

Green roof dan green wall juga berfungsi sebagai filter udara yang membuat udara lebih bersih. Sebagai informasi, setiap satu meter persegi rumput di bagian atap dapat menghilangkan sekitar 0,2 kg partikel udara yang kotor setiap tahunnya. “Mungkin kecenderungan desain ini akan bertahan lima hingga sepuluh tahun ke depan,” duganya.

Dengan semakin sempitnya lahan perumahan, arsitek juga akan lebih kreatif dalam mendesain rumah di lahan sempit. Misalkan saja dengan semakin mengefisienkan penggunaan ruangan. Langkah tersebut bisa dilakukan untuk membangun berbagai jenis properti, baik town house maupun apartemen.

Tidak berbeda dengan itu, arsitek senior dari PT Jakarta Konsultindo Didi Haryadi mengatakan, desain minimalis masih akan menjadi pilihan pengembang dalam membangun proyek-proyeknya. Ini karena masyarakat khususnya kelas menengah bawah relatif masih menyukai desain rumah seperti itu.

Pada saat ini pengembang cenderung lebih banyak memperhatikan ketersediaan rumah daripada desain rumah. Apalagi pada 2009 mendatang, unit rumah yang dibangun diperkirakan akan melambat. Hal itu seiring dengan tingginya tingkat suku bunga perbankan yang langsung berdampak pada KPR.

Pergeseran desain baru akan terlihat pada rumahrumah yang dibangun secara mandiri oleh masyarakat. Arsitektur rumah yang dibangun akan disesuaikan dengan iklim Indonesia yang tropis. Karena itu desain rumah akan banyak terdapat bukaan-bukaan khas minimalis. “Bukaan-bukaan yang lebih lebar tanpa ada ornamen,” katanya.

Hal tersebut dimaksudkan untuk memudahkan sinar matahari masuk ke rumah serta memperlancar sirkulasi udara. Rumah dengan desain seperti itu, tentunya meningkatkan kualitas kesehatan penghuni. Selain itu, rumah yang banyak terdapat bukaan-bukaan cenderung lebih hemat energi.

Namun, dia menyarankan, akan lebih baik kalau desain yang dibangun disesuaikan dengan iklim tropis Indonesia. Sebab, ada kalanya masyarakat lebih menyukai desain yang mengikuti iklim luar negeri. Misalkan saja mempergunakan bahan yang cepat lapuk bila dipergunakan untuk iklim tropis. (sindo)

Share
This entry was posted in Arsitektur Bali and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.