27
Dec
Dec
Rumah Bernuansa Resor

BEREKREASI tak harus selalu dilakukan di luar rumah. Di areal rumah pun bisa, asalkan tempat tinggal kita itu memiliki nuansa resor. Bagaimana menciptakannya?
Liburan merupakan momen yang senantiasa kita nantikan. Terlebih lagi di akhir tahun, yang identik dengan masa liburan panjang
serta suasana pergantian tahun. Suasana yang sejuk alami dan hawa yang segar akan menciptakan kesan rileks sehingga kita dapat beristirahat dengan tenang. Namun, tahukah Anda bahwa hal-hal tersebut dapat kita ciptakan di rumah sendiri? Untuk itu, Ir Wisnu Subrata, arsitek dari Mitra Graha Asri Mandiri akan coba memberi tahu beberapa langkah yang perlu kita lakukan guna mewujudkan hal tersebut.
Hal pertama yang perlu kita lakukan adalah, bangunan rumah harus mampu menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan sepertiiklim dan cuaca. Jadi, bangunan merupakan hasil interaksi antara kebutuhan dasar manusia dan keadaan sekitarnya, atau lebih spesifik lagi iklim tropis. Secara arsitektural, ada beberapa ciri yang kemudian dijadikan pertimbangan utama dalam menanggapi iklim yang panas dan cenderung basah.
Iklim tropis secara umum ditunjukkan dengan adanya sinar matahari sepanjang tahun, curah hujan tinggi plus embusan angin yang cukup kencang, serta kelembapan yang tinggi. Iklim inilah yang menjadi faktor utama yang membentuk kebudayaan dan gubahan bentuk bangunan. Hal ini juga yang menjadi panduan di dalam mendesain arsitektur tropis.
Hal kedua adalah dengan membuat unsur-unsur yang membentuk tipe rumah hunian bernuansa resor secara arsitektural, seperti:
- Adanya beranda atau teras yang besar.
- Adanya aliran interaksi antara ruang luar dan ruang dalam.
- Halaman dalam atau courtyard yang sederhana dan tidak adanya pembeda yang tegas antara ruang privat dan ruang publik.
- Bentuk atap yang terlihat dominan, baik berbentuk miring maupun bertingkat yang memiliki sayap lebar atau overhange yang lebar
- Sangat memperhatikan kedalaman dan bayangan serta memiliki pertukaran udara melalui ventilasi silang yang baik.
- Berupaya mempertahankan penggunaan kayu dan unsur-unsur alam lainnya.
Dalam perkembangan selanjutnya dilakukan penyesuaian dengan mengombinasikan antara berbagai unsur tradisional dengan unsur modern di dalam bangunan dan dilakukan penyederhanaan bentuk-bentuk yang diterapkan.
Hal ketiga adalah menggunakan elemen-elemen material yang secara garis besar berupaya memasukkan unsur- unsur alam ke dalam tapak bangunan seperti:
- Batu-batu alam semisal batu paras bali, andesit, dan batu candi.
- Vegetasi atau tanam-tanaman dan pepohonan.
- Unsur air seperti kolam ikan,air terjun, dan kolam renang.
- Penggunaan material kayu yang cukup banyak atau bahkan alang-alang dan bambu ke dalam bangunan.
Keempat, kita dapat mencari view yang terbaik yang ada di sekitar bangunan. Jika tidak ada, maka kita harus mencoba untuk membuat view baru di dalam bangunan yang menjadi pusat orientasi atau focal point dari keseluruhan bangunan. Jika di Bandung untuk area luar memakai Gunung Tangkuban Perahu sebagai view, atau jika kita tinggal dekat dengan padang golf, maka lapangan golf tersebut yang dapat kita jadikan view terbaik. Untuk view yang dibuat di dalam bangunan, kita dapat membuat kolam ikan dengan dinding batu alam sebagai air terjun, atau kita dapat membuat kolam renang dengan kombinasi batu-batu alam di pinggirnya berikut pooldeck dari kayu.
Hal kelima, yakni dengan memanfaatkan split level atau permainan ketinggian bangunan. Untuk hunian resor, bentuk-bentuk ruangan yang ada cenderung bersifat ambigu. Artinya, tidak terdapat batas yang tegas atau pembedaan yang jelas antara ruangan-ruangan
yang ada, seperti antara ruang publik dan ruang privat, ruang luar dan ruang dalam, tertutup dan terbuka, serta lama dan baru, terang-gelap, sebagian-keseluruhan, dan lain-lain. Jadi, kita dapat membuat permainan split level pada tanah bangunan yang kita bangun agar dapat terjadi interaksi yang lebih intens antarruangan, di mana kita masing-masing dapat merasa menyatu dan saling mengamati satu sama lain karena tiap ruangan bisa kita perlakukan secara ambigu. Kadang terbuka, kadang tertutup, kadang luas, dan bisa juga sempit dengan memakai partisi. Ruang dalam dan kolam dapat menyatu berkat adanya pintu-pintu kaca yang cukup besar yang bisa dibuka secara keseluruhan.
Keenam adalah berupaya memadukan dan menyerasikan. Jadi, adanya dua unsur yang saling berlawanan tidak menjadikan hal tersebut bertentangan, melainkan menjadi unsur yang akan saling melengkapi. Jadi kita boleh memadukan unsur-unsur tradisional
dan modern dalam hunian agar bisa serasi dan menyatu. Elemen-elemen penyaring, pembatas, dan transisi seperti dinding, gerbang, ambang pintu, serta tangga dapat pula diolah menjadi unsur yang menarik dalam hunian untuk menegaskan bahwa rumah kita adalah hunian resor. Penanganan yang bijaksana akan membantu menciptakan variasi ruang yang menarik. Aliran ruang dari dalam menuju ke luar dengan adanya perantara seperti dinding, ambang pintu, tangga, dan gerbang bakal menciptakan kontinuitas dengan pengalaman ruang yang beragam dan kaya. Selamat berkreasi! (sindo//tty)












