Pengembang di Jabar khawatir harga bahan bangunan akan melambung menyusul kenaikan harga besi sejak Februari serta berjalannya proyek pemerintah pada pertengahan tahun ini dan rencana kenaikan tarif dasar listrik.
Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan Rakyat Seluruh Indonesia (Ap2ersi) Ferry Sandiyana mengatakan harga besi ukuran 10 mm naik dari Rp46.000 menjadi Rp49.500 per batang dalam tiga bulan terakhir.
“Rata-rata harga besi berbagai ukuran naik Rp200—Rp400 per kg. Kami khawatir harga bahan bangunan yang lain ikut naik sehingga biaya produksi membengkak,” katanya hari ini.
Dia memperkirakan kenaikan bahan bangunan lainnya, seperti semen, pasir, rangka baja, dan keramik bisa mencapai 10%–15% pada pertengahan tahun apabila peningkatan permintaan besi tidak mampu dipasok produsen.
Menurut dia, penggunaan besi untuk proyek infrastruktur jalan lebih besar dibandingkan penggunaan pada bangunan rumah. “Pengembang Rumah Sederhana Sehat [RSh] yang tampaknya akan terbebani karena hingga saat ini belum ada kenaikan harga dari tahun lalu,” katanya.
Dia mengatakan penggunaan besi memang tidak signifikan pada pembangunan RSh, tetapi kalau sampai harga bahan bangunan yang lain ikut naik maka pengembang akan semakin dirugikan. Menurut dia, pengembang RSh biasanya melakukan subsidi silang antara RSh dengan rumah komersial agar keuangan perusahaan masih terselamatkan. “Saat ini biaya produksi RSh rata-rata Rp1 juta per meter persegi.”
Dia mengatakan kesulitan pengembang RSh lainnya adalah sudah tidak ada lagi tanah dengan harga di bawah Rp100.000 per meter persegi di wilayah satelit kota-kota besar. Menurut dia, harga tanah di Bandung bagian selatan sebagai penyangga Kota Bandung saja sudah sangat mahal untuk ukuran RSh.
Sementara itu, apabila memaksakan pembebasan tanah di wilayah yang lebih jauh, pengembang khawatir unit RSh tidak terserap karena jarak yang terlampau jauh dari pusat kota dengan akses jalan yang belum tentu bagus.
Apersi pada tahun ini menargetkan bisa membangun sekitar 6.800 unit RSh di Jabar. Hingga April 2010, pembangunan baru mencapai 1.100 unit. “Pengembang RSh tampaknya akan memaksimalkan lahan yang sudah dibebaskan pada tahun lalu untuk mengejar target pembangunan tahun ini.”
Ketua Asosiasi Marketer Developer Bandung (AMDB) Yuyun Yudhiana mengharapkan produsen besi bisa memaksimalkan pasokan menghadapi potensi peningkatan permintaan di tengah tahun ini agar harga bahan bangunan tidak ikut naik.
Menurut dia, tren kenaikan harga besi dan pencairan proyek pemerintah, ditambah rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) berpotensi membuat produsen bahan bangunan lain menaikkan harga produknya.
“Kalaupun tidak turun, kami harapkan harga besi bisa stabil terlebih dahulu di akhir tahun ini supaya mengurangi tekanan kepada kenaikan harga bahan bangunan yang lain,” katanya.
Sebagai antisipasi, lanjutnya, pengembang belum menaikkan harga rumah sejak awal tahun karena khawatir terjadi kenaikan di pertengahan tahun. Dia mengemukakan kenaikan harga rumah maksimal 10% masih bisa meningkatkan penjualan di tahun ini karena pengembang memiliki strategi pemasaran lain, melalui kemudahan sistem pembayaran dan subsidi bunga.
“Tahun ini beberapa bank sudah mulai menurunkan suku bunga KPR-nya yang bisa menjadi pendorong peningkatan penjualan unit rumah” (Bisnis.com)



