Apakah benar Arsitek menghasilkan karya arsitektur?
Apakah tidak bisa dipikirkan hal yang sebaliknya?
Barangkali postulasi bahwa sebuah (karya) arsitektur melahirkan seorang arsitek akan mempermudah pemikiran segalanya.
Contohnya: Kita tak usah lagi menghawatirkan ke mana arahnya sistem/kurikulum pendidikan arsitektur kita karena dengan postulasi ini jelas arsitektur tidak tergantung dari sistem pendidikannya. Lebih lagi kita bisa meninggalkan pemikiran birokratik bahwa satu-satunya jalan untuk menjadi arsitek hanyalah melalui perguruan tinggi. Walaupun itu memang yang terjadi sekarang.
Kita sejujurnya telah terjebak dengan istilah arsitek dan arsitektur. Kata arsitektur, berasal dari bahasa mana pun berakar, seolah bermulal dari kata dasar arsitek dengan imbuhan “tur”. Sehingga kesannya seolah-olah karya-karya arsitektur juga keluar dari tangan para arsitek. Apapun jadinya.
Tetapi apakah memang begitu?
Mengapa kita tidak membiarkan seseorang, katakan telah melewati pendidikan dan latihan di lembaga pendidikan arsitektur, menghasilkan suatu karya bangunan. Lalu kita tidak memberi julukan dia sebagai seorang arsitek sampai karyanya itu patut dinilai sebagai suatu karya arsitektur. Jadi karyanya itulah yang memberinya dia julukan sebagai arsitek. Bukan sebaliknya, karyanya dinilai sebagai karya arsitektur semata- mata karena muncul dari tangan seorang (konon) arsitek.
Seorang pelukis tidak mendapat julukan pelukis sampai salah satu saja karyanya patut disebut sebagai lukisan yang bermutu. Demikian pematung, pengarang lagu, dst. dst. terserah bagaimana mereka mendapatkan keahlian dan kamampuannya untuk menghasilkan karyanya.
Sebaliknya barangkali membahas bagaimana cara memberikan penilaian bahwa suatu bangunan patut disebut sebagai karya arsitektur mungkin lebih diperlukan buat masyarakat budaya kita. Misalnya apakah sebuah botol parfum raksasa setinggi 40 lantai, bisa kita kategorikan sebagai karya arsitektur?
Read the rest of this entry »